Bahagia
kurasa yang ada di antara kita, perjalanan cinta tak pernah begitu membuatku
bahagia seperti ini. Hanya denganmu aku merasakan tak ada makhluk sesempurna
dikau. Alis matamu, hidungmu, bibirmu, sampai geraian rambutmu terasa layaknya
lukisan Tuhan yang diberi nama Manusia.
Sedap
tuk dipandang hanyalah setitik indah dalam dirimu, disamping itu ada ketulusan
yang dalam di hatimu. Kau berjuang begitu keras tanpa berkeringat kotor, karena
setiap tetesnya kan selalu laksana embun pagi. Nina, Kaulah makhluk Tuhan yang
tak akan tercipta lagi.
(Sepucuk surat Ali Akbar)
-A
Little Love for An Imperfect Boy-
Namaku
Al, aku adalah seorang siswa SMA ternama di kotaku. Selain itu aku juga masuk
ke dalam kelas yang berisikan anak-anak pilihan, dari tingkat kecerdasan sampai
bakat mereka. Sementara diriku hanya mau bergerak ketika diberi cambukan yang
keras dari segala arah, itulah yang menyebabkan ku selalu lari tergopoh-gopoh
mengikuti mereka. Tak lain aku adalah penghuni peringkat terakhir yang selalu
berlangganan untuk mendapatkannya. Aku malas karena memang tiada hal yang
paling membosankan kecuali menjalin hubungan khusus dengan buku-buku pelajaran.
Secara akademik, hampir setiap saat aku mengabaikannya. Selain masalah dalam
sekolah, aku juga mendapat beberapa sisi kurang yang lain. Jikalau semua orang
sedang gila-gilaan dalam menjalani kesenangan mereka pada masa pubertas,
mencari pacar, saling bergaul sana-sini, sampai mencoba untuk membuat suatu planning terhadap masa depan mereka
masing-masing. Sementara diriku hanya terpaku diam melihat semua kesibukan
orang orang ini, inti dari masalahku adalah pada tidak peduli akan hal sekitar.
Dibalik
semua kekurangan itu, terdapat titik terang dalam jiwa seorang Al. Al adalah
sesosok malaikat yang turun dari surga membawa sejuta kesan yang hadir dalam
dunia. Dialah yang selalu inspiratif, kreatif, dan produktif. Mati rasa dalam
keseriusan tak membuatnya mati gaya pula. Karena dia berjalan dalam sastra dan
seni. Darah cinta selalu mengalir di dirinya, tapi cuma Nina, seorang bidadari
yang beruntung datang ke tempat persinggahan yang tepat.
Darah
kreatifku membuat beberapa gadis menjadi berjalan searus denganku, mengikutiku,
dan menggemariku. Bukan suatu rasa percaya diri yang berlebihan jika aku
mengatakan seperti itu, karena memang fanatisme mereka mencerminkan hal yang
sama. Sayang sungguh sayang Nina telah menjadi incaran hatiku.
Di
masa lampau, aku mengalami beberapa kisah cinta yang tak akan terlupakan begitu
saja olehku, yaitu cintaku bersama Nina. Nina adalah teman sekelasku. Walau
memang belum bisa aku memacarinya, karena pada waktu itu aku belum
mencintainya. Tapi memang kita semua dalam satu naungan kelas mempunyai segala
bentuk hubungan dekat sehingga Nina sudah terasa seperti seorang saudara
bagiku, hingga nantinya akan menjadi separuh udara dalam nafasku, aliran darah
dalam nadiku, serta detakan jantung dalam dadaku.
Semua
kisah itu dimulai dari sifatku yang begitu melekat erat, ketidakpedulianku
dalam segala hal yang serius. Kali ini diriku bermasalah dengan urusan sekolah,
kebodohanku tak dapat kupungkiri. Setiap mata pelajaran yang aku ikuti selalu
mempunyai nilai yang sangat tipis dari batas kelulusan, hal ini sangat
mengkhawatirkan mengingat aku berada di kelas unggulan. Di sisi lain, Nina
adalah seorang yang sangat rajin dan serius dalam membangun masa depannya.
Suatu penyesalan baginya jika beberapa kali dia melakukan pekerjaannya dengan
tidak sempurna.
Ketika
hari pembagian hasil ulangan harian Matematika, seperti biasa aku hanya
mendapat angka sekitaran 81, sangat tipis dengan 80 sebagai angka kelulusan.
Nina mendapatkan angka 96, tapi keluhannya benar-benar membuatku tak nyaman.
Aku maju ke depan mejanya sembari dia masih marah-marah terhadap hasilnya
sendiri. Lalu aku gebrak mejanya keras dan berkata,
“Cukup
Nina, Apa kau belum puas dengan hasilmu yang menakjubkan ?” Aku bentak dia
dengan nada tinggi.
“Apa maksudmu ? Kau sendiri kan tidak peduli
dengan hasilmu yang rendah itu.” Kami saling bentak membentak beradu argumen.
“Kau
bilang aku tak peduli ? Iya memang itu benar. Tapi ingat satu Nina, Tuhan
selalu mendengarkan apa yang kita katakan. Memang apa yang kau katakan pasti
hanya akan membuatmu mengeluh lalu berusaha lebih keras lagi. Tapi asal kau
tahu saja, semua itu hanya akan terdengar sebagai omong kosong dan bukti
kesombongan di telingaku, bahkan telinga orang lain !”
Nina
hanya terdiam, dia merasa sangat bersalah. Karena jika dipikir-pikir, apa yang
kukatakan memang benar. Air matanya menetes sembari kepalanya tertunduk,
terdengar rengekan kecil dari mulutnya. Ternyata dia menangis, tak kusangka
perempuan ini mempunyai hati selembut itu sampai aku telah menyakitinya.
“Sudah
diam ! Kalian berdua salah. Al, kamu sendiri tak pernah mendapatkan angka yang
pantas untuk keberadaanmu di sini. Nina, memang iya kamu terdengar sangat
sombong jika melihat temanmu yang lain tidak mendapat sebaik dirimu.” Pak Edi,
Guru matematika kami, membentak untuk melerai kita.
“Iya
pak, ternyata saya memang salah. Saya tidak akan mengulangi lagi.” Nina
menyesal.
“Karena
kalian bersalah maka akan saya beri kalian hukuman. Untuk Nina, kamu harus
membuat Al mampu mendapat nilai di atas 95 di semester ini. Dan untuk Al, buat
Nina mampu menghargai yang lainnya. Jika gagal akan saya beri tambahan hukuman
untuk kalian. Mengerti ?” Pak Edi memberi hukuman.
“Mengerti
pak.” Kami berdua menjawab kompak.
Setelah
semua itu terjadi maka Pak Edi pergi meninggalkan kelas. Suasana kembali
tenang, Nina pergi ke belakang kelas dengan membawa tasnya. Dia duduk di
sampingku dengan tenang.
“Buat
apa kau ke sini nona rajin ?” Ejekku padanya.
“Aku
hanya ingin menjalankan tanggung jawab dan mulai sekarang kamu aku awasi agar
kamu mau belajar.” Jelas Nina.
“Terserahlah
apa katamu.”
Semua
itu berjalan dengan sendirinya, tak ada aturan, tak ada perubahan. Seperti
biasa jika di kelas aku hanya tertidur, bermain handphone, dan menggambar
sesuatu yang tidak jelas. Kali ini selalu tertahankan ketika Nina mengganggu
kegiatanku itu. Terkadang aku marahi dia, tapi tetap saja dia bersikukuh
membuatku mengikuti pelajaran. Cara dia menyadarkanku dari hal-hal itu adalah
dengan mencubit perutku. Semakin aku mengabaikannya, maka akan semakin keras
dia melakukannya. Benar-benar efektif untuk membuatku memperhatikan pelajaran,
tentunya aku merasa terganggu. Maka ketika dia keluar kelas, aku mengajaknya
untuk segera berbincang-bincang sambil berjalan.
“Hentikan
semua itu, aku tak suka.” Larangku padanya.
“Biarlah,
yang penting kau segera mendapat nilai bagus dan tugasku selesai.”
“Asal
kau tahu saja, aku ini orang yang cerdas. Tentu aku mampu mendapat nilai yang
baik, tetapi aku tak mau saja.”
Dia
berhenti melangkah sejenak, lalu berkata, “Baiklah kalau memang begitu,
buktikan kalau memang semua itu benar. Jika sampai kau tidak mampu mendapat
nilai di atas 90 pada ulangan harian kali ini, maka kau akan jadi pesuruhku
selama satu minggu.”
“Siapa
takut ? Jika aku berhasil, maka kau harus jadi pacarku. Sepertinya menarik juga
jika aku punya pacar yang cantik juga pintar.” Aku menerima tantangannya,
tinggal bagaimanakah dia menyikapi ini.
“Apa
maksudmu ?” Dia sedikit marah, lalu kembali tenang, “Tapi tak masalah, aku
yakin kau tak akan bisa melakukannya.”
Setelah
itu kami berpisah, melewati jalan yang berbeda. Padahal jalur terdekat ke rumah
kami adalah satu jalur yang sama. Kami menjadi ibarat dua ekor kucing dan
anjing yang tak bertengkar, tapi hanya saling menjauhi.
Teringat
kata-katanya tadi, aku tak akan terima menjadi pesuruh seorang gadis kutu buku,
lalu pikiran nakalku mulai berkeliaran mencari cara licik. Mulai dari akan
membuat kesepakatan dengan temanku yang pintar, sampai ingin membuat catatan
kecil yang akan aku bawa ketika ujian. Tetapi kilasan wajah terbesit dalam
pikiranku, membuatku merasa bersalah ketika akan berbuat yang tak patut. Ya,
aku ingat wajah siapa itu. Itu adalah wajah Nina, wajahnya ketika menangis
setelah aku marahi. Ketika dia mau berubah menjadi yang lebih baik, dia tak mau
menggunakan topeng palsu dalam wajahnya. Maka aku akan lebih hina jika
melakukan hal-hal licik. Tak lain yang kulakukan berikutnya adalah mulai
membuka buku, membaca keseluruhan bab, lalu mengerjakan semua soalnya. Tentu
menghabiskan waktu yang panjang, pukul dua pagi baru bisa aku tidur. Begitu
melelahkan.
Besok
paginya aku berangkat ke sekolah dengan mata yang sayu, kantung mata sudah
tentu timbul menghitam. Berjalan dengan sangat lambat memasuki kelas, terlihat
teman-teman sedang risau belajar dan saling tanya. Sementara kulihat Nina sudah
duduk di bangku kemarin, yaitu di samping mejaku. Tak kuperdulikan dia, aku langsung
duduk, melipat tangan di atas meja, lalu kututupkan wajahku dengan menunduk di
atasnya, seperti anak yang sedang menangis. Tetapi yang kulakukan hanyalah
ingin balas dendam tehadap waktu tidurku yang terkurangi tadi malam. Belum
sempat terlelap, tiba-tiba timbul rasa sakit di perut, ternyata Nina mencubit
perutku lagi.
“Bagaimana
? Sudah siap menghadapi ujian ?” Dia bertanya dengan nada yang sedikit
meremehkan.
“Ah
sudahlah, malas aku membahas itu.” Kembali kutundukkan wajahku.
Dia
mencubitku lagi, “Berarti sudah siap menjadi pesuruhku selama satu minggu ?”
Berbicara dengan tertawa kecil.
“Sebenarnya
tidak, sudahlah lakukan apa yang perlu kamu lakukan.” Kuakhiri perbincangan
kita dan setelah itu kita lakukan kegiatan kita masing-masing. Nina belajar,
dan aku hanya tidur hampir sepanjang hari. Berkali-kali Nina membangunkanku,
terkadang saking lelapnya dia mencubitku begitu keras. Tentunya aku terbangun
dan kembali lagi. Pada akhirnya dia sudah terlalu sering melakukannya dan
berhenti melakukannya.
Dia
berbisik di telingaku, “Kamu sepertinya lelah sekali ya ? Ya sudah selamat
beristirahat.”
Aku
mendengar apa yang dia katakan, walaupun mukaku tak kuangkat sedikitpun.
Mungkin dia menganggapku tidur dan mengabaikannya, padahal aku tahu semua itu.
Setelah
lelah tertidur, aku membuka mataku yang sudah begitu segar. Ternyata sekarang
waktunya ulangan harian matematika, tepat ketika Pak Edi datang. Kuterima
lembar soal dan jawaban milikku, tetapi belum kubuka. Aku berharap semua ini
dapat berjalan dengan baik agar semua yang kulakukan tak terasa sia-sia.
Sekitar
satu setengah jam kukerjakan soal matematika ini, sepertinya lebih lancar dari
pada ulangan-ulangan sebelumnya. Soal yang kukerjakan tadi malam memang banyak,
dan beberapa mempunyai jenis soal yang sama saat ini. Semua soal sepertinya
telah kupelajari, tinggal bagaimana keberuntunganku mampu berbicara.
Setelah
ujian berakhir, aku pulang ke rumah. Lalu
berganti baju dan segera makan siang. Setelah itu aku pergi ke kamar
untuk rehat sejenak menghilangkan beberapa kepenatan. Handphoneku terdengar
berbunyi, isyarat sedang ada pesan yang masuk. Setelah kubuka tak kusangka datangnya
dari Nina, sehingga secara tak sengaja sepanjang hari itu kita saling balas
pesan teks.
“Hai
Al, bagaimana ujian kamu ? Sukses ?” Pesan yang dia kirim pertama.
“Hasilnya
saja belum dibagi, jadi belum jelas bagaimana hasilnya.” Jawabku.
“Oh
iya ya, kamu sudah makan belum ?”
Aku
semakin tak mengerti apa maksudnya, ”Sudah, ada apa denganmu Nina ?”
“Tidak
apa-apa kok, kamu mau istirahat ya ?”
“Tidak,
aku kan sudah tertidur sepanjang hari tadi di kelas.”
Dan
begitu seterusnya, banyak pertanyaan yang tidak jelas arah dan tujuannya dia
lontarkan. Tadinya aku hanya membalasnya penuh kebencian, tetapi tanpa sadar
aku sekilas mengingat suaranya waktu di sekolah tadi pagi. Setelah itu setiap
pesan masuk darinya selalu bergegas aku membuka dan membalasnya. Setiap yang
dia bicarakan selalu kubaca seiring hati berdesir, jantungku berdetak tak
terkendali. Hal ini berhenti ketika beberapa jeda sebelum dia membalas, aku
tertidur, dan satu pesan terakhirnya hari itu baru kubuka paginya.
Tak
kubalas pesan itu aku bergegas ke sekolah dan duduk di tempat seperti kemarin,
di samping Nina. Ku lihat sekilas wajahnya yang sedang makan pagi, dia selalu
melakukannya setiap hari. Memang dia ini cantik dengan sejuta gambaran wajah
yang akan menghabiskan begitu banyak ruang untuk medeskripsikannya. Dilengkapi
dengan kepintaran dan keramahannya membuat dirinya dapat kubilang hampir
sempurna. Terbuai aku memandanginya, tanpa sadar dia telah memandangku dengan
seksama, lalu dia bertanya.
“Kenapa
kamu memandangiku sambil senyum-senyum ? Kamu suka sama aku ?”
“Tiada
yang terpampang secara jelas kecuali kecantikan seorang wanita sebagai
perwakilan pesona ciptaan Tuhan.”
“Apa
maksudmu ? Aku tak paham, tapi sepertinya bagus juga kata-katamu.” Nada
suaranya datar, penuh gaya yang begitu tak peduli dia kembali makan.
“Mungkinkah
aku memiliki seorang yang hampir sempurna ini jikalau aku berlumur dosa dan
kesalahan ? Biarlah menjadi milikku agar dia mampu melengkapi segala
kekuranganku.” Aku bicara sendiri, tapi tentunya dia mendengar apa yang aku
katakan.
“Tentu
bisa, kalau nilai ujianmu di atas 90.” Tetap saja dengan datar dia berbicara,
bahkan matanya tak teralihkan dari makanannya.
Lagi-lagi
masalah pelajaran yang menjadi orientasinya, tapi tak masalah. Ku akui baru
kali ini ada satu orang yang mampu membuatku berusaha jauh lebih keras dari
biasanya. Aku merasa sangat bahagia.
Satu
minggu berlalu begitu cepat, sudah waktunya Pak Edi membagikan hasil ujian.
Ketika Nina mendapatkan hasil ujiannya, dia menunjukkannya kepadaku. Hasilnya
sudah pasti sangat mengagumkan, 98 hampirlah sempurna. Itu hal yang biasa,
tetapi kali ini yang membuatku penasaran adalah berapa nilaiku untuk mendapatkan
asetku ini. Setelah dipanggil namaku, Pak Edi sedikit memberikan senyuman
padaku. Ternyata nilaiku 96, begitu bangga diriku.
Dengan
pemikiran yang mendalam, aku melakukan hal yang berbeda dengan bayanganku. Jika
aku mendapat nilai 96 dan aku tunjukkan pada Nina, mungkin dia akan menjadi
pacarku tapi atas hasil yang kudapat, bukan karena cintanya. Maka kumasukkan
kertas ujianku ke dalam tas agar Nina tidak mengetahuinya.
“Berapa
nilaimu ? Di atas 90 ?” Tanya Nina.
“Bukan,
cuma 84 kok. Belum cukup untuk mendapatkanmu.” Kataku sembari menundukkan
kepala selayaknya orang yang menyesal.
“Tidak
masalah kan ? paling tidak ada peningkatan kan ? Tersenyumlah.” Dia menghiburku
dengan begitu hangat, senyumnya juga terhidang di depan mataku. Begitu manis,
sehingga membuatku tersenyum juga.
Setelah
itu, selama satu minggu aku menjadi pesuruhnya, memang terkesan hina. Tetapi
apa yang aku rasakan begitu indah. Bukannya disuruh-suruh tetapi malah diminta
menemani makan, datang ke rumahnya untuk belajar, bahkan sampai ketika akhir
minggu aku harus datang mengajaknya jalan-jalan.
Begitulah
yang aku lakukan setiap minggunya, semua merubah hidupku. Seluruh nilaiku naik
begitu drastis. Inilah masa-masa aku mampu melakukan hal besar, karena hadirnya
sebagai cambuk dalam hidupku.
Pernah
juga ketika kita gencar belajar, aku mengajaknya berjalan-jalan ke sebuah air
terjun di kota kami yang memang belum terkenal keberadaannya. Kulontarkan
kata-kata manis kepadanya.
“Nina,
lihatlah air yang selalu menetes itu, mereka mengalir dengan polosnya mengikuti
arah sungai. Begitulah diriku yang selalu menurut padamu selama ini, membuatku
jauh lebih baik. Lupakanlah sejenak kepenatanmu, biarkan suara alam menenangkan
jiwamu, suara rumput, kicauan burung, tetesan air, sampai suara anak-anak yang
bersenda gurau bersama temannya. Tutup matamu, dan dengarkanlah.”
Dia
menutup matanya dan mulai tersenyum lepas, bak bidadari yang mendapatkan
jalannya kembali ke surga. Kepenatan ibarat bebannya ketika dikirimkannya
sebagai makhluk hidup, dan ketenangan ini mewakili keheningan dan keindahan di
kehidupan setelah mati, yaitu surganya dunia. Karena tidaklah terkenal, maka
wajar jika keperawanan alam ini menjadi aset utamaku dalam menenangkan jiwa dan
menghadapi masalah.
Setelah
jiwa kami tenang, kami segera pulang. Hal ini terjadi berkali-kali juga bahkan
sering karena dia memintaku tuk mengajaknya ke sini lagi, hampir setiap minggu.
Ketenangan hidup kudapatkan mulai saat ini, kejayaan masa depan sampai wanita
yang kuidam-idamkan, walaupun bukan sebagai pacarku.
Suatu
hari senin, seperti biasa ada upacara bendera. Seperti biasa pula jikalau ada
yang berprestasi akan dipanggil ke depan. Kali ini ada seorang anak laki-laki
yang mendapatkan penghargaan juara olimpiade kimia tingkat nasional, biasa saja
menurutku. Tetapi ada pandangan tak biasa yang keluar dari mata cantik Nina,
dia sangat kagum pada laki-laki bernama Denis tersebut. Sudah tentunya Nina
akan kagum, semua yang berbau akademik akan dia sukai. Aku tak paham dengan
pola pikirnya, hal ini yang tetap membuat kami berbeda walaupun aku juga selalu
mendapatkan hasil yang baik pula sekarang.
Semua
berjalan hampir sama di kesekian harinya. Sampai suatu saat Nina datang dengan
tersenyum aneh. Ketika sampai di bangku, dia langsung berteriak.
“Al,
selamat atas apa yang kamu dapatkan, ternyata kamu menyimpan semua rahasiamu.
Aku tahu nilaimu sudah lama begitu baik, selamat sekali lagi !” Dia
berteriak-teriak sembari menyalami tanganku.
Aku
tersenyum sembari berkata, “Berarti sebenarnya kamu sudah lama menjadi pacarku
kan ?” Dengan sedikit tertawa aku berkata.
Ada
hal aneh, mimik mukanya berbeda. Dia menarik nafas panjang dan baru berkata,
“Sayangnya Al, aku baru saja kemarin malam menjadi milik Denis. Dia menyatakan
cintanya dan aku menerimanya, lagipula dia kan anak yang pintar.” Dia kembali
tersenyum lebar.
Aku
terkaget, sampai aku menelan ludah dengan begitu dalam. Yang bisa kulakukan
hanya memberikan selamat dan juga tersenyum, walau aku tahu pasti senyumanku
begitu pahit.
“Selamat
ya.” Cuma itu yang aku ucapkan, tanpa sadar nadaku lirih.
Mulai
saat itu aku sudah tidak bicara lagi dengannya, Nina bahkan terlihat sangat
sedih ketika memperhatikanku yang menjauh darinya. Berpapasanpun aku
berpura-pura sibuk dengan apapun yang kupunya, sakit memang yang kurasa. Pernah
juga sekali dia mencoba untuk bicara kepadaku untuk meminta maaf jika telah
menyakiti hatiku, aku hanya mengangguk. Tak tahu mengapa dia langsung duduk di
bangkunya yang sekarang sudah pisah denganku, dan dia menangis begitu
terisak-isak. Aku sendiri malu untuk menemuinya, semua kenangan indah akan
menjadi beban perih di hati ketika ada satu kemelencengan dari salah satu
pihak.
Hal
yang paling menyakitkan adalah ketika melihatnya sedang tertawa bersama dan
dalam gandengan tangan Denis, membuatku ingin membuat suatu teorema baru, Sakit memang melihat pasanganmu sedih
bersamamu, tetapi jauh lebih sakit ketika melihat orang itu bahagia tetapi
dengan orang lain. Kesedihan itu berlanjut sampai pada suatu waktu kami
berdua yang terakhir di dalam kelas dan terjebak hujan lebat yang menjadikan
suasana kelas gelap. Tanpa sadar ternyata dia menangis sambil berkata.
“Apa
salahku padamu ? Sekarang kita sampai layaknya dua orang musuh.” Tangisannya
begitu kuat, nafasnya juga terisak-isak. “Aku sekarang menangis ! Tapi tetap
aku perjuangkan untuk berbicara, hanya untuk memperbaiki hubungan kita berdua.”
Hatiku
tersentuh mendengarnya, mataku mulai berkaca-kaca. Akhirnya tangisanku turun
juga bersama turunnya air hujan. “Semua yang aku lakukan adalah untukmu,
menjalani hari indah bersamamu. Membuatku merasa terbang bebas di atas awan,
sehingga membuatku menentukan pilihan. Sudahlah cukup terima kasih atas yang
telah kau berikan, kaulah lika-liku sungai yang membawaku menjadi lebih baik.
Sekarang aku sudah mampu merajut masa depanku karenamu. Dan setelah itu kau
terbang seperti bidadari yang menyelesaikan tugasnya menuju surga. Denis memang
pintar, memang baik hati, dia juga hampir dikatakan sama denganmu yang menata
hidupnya dengan baik.”
Kumelangkah
dan berbicara begitu tepat di depan wajahnya dalam keadaan kami berdua saling
menangis, suaraku pelan dan lirih, “Maafkan aku bukanlah orang yang pantas
untukmu, aku telah mencintaimu semenjak kau mampu membuatku berubah. Aku tak
akan menjadi sepintar Denis, aku tak sedewasa Denis. Tapi ini aku apa adanya,
maka dari itu aku tak akan membiarkanmu menjadi pacarku karena ada apanya.
Semua itu adalah perjuanganku dalam mendapatkan hatimu. Tetapi ternyata rasa
sakit yang kudapatkan, hati ini rasanya seperti tersayat-sayat pisau belati.
Aku tahu Tuhan Maha Mendengar tangisan kita sekarang. Tapi andai boleh,
kuharapkan Tuhan melumpuhkan ingatanku, menghilangkan kenangan kita. Dan jika
memang masih tak bisa dikabulkan, biarlah Tuhan mencabut nyawaku.” Seluruh
kata-kataku bersama dengan tangis kita berdua, semakin lama semakin keras
tangisannya. Tetapi setelah aku berkata seperti itu, kutinggalkan dia dan aku
berlari menerobos hujan dengan tetap membiarkan air mataku mengucur dan bercampur
air hujan. Hanya kudengar teriaknya dari dalam kelas.
“Al,
kembalilah !”
Di
perjalanan pulang aku tak berhenti menangis, sampai suatu hal terjadi. Ternyata
karena badai sedang menerjang, salah satu pohon runtuh dan akhirnya menimpa
sepeda motorku. Aku terlempar begitu jauh, helmku lepas seketika karena aku
lupa tidak mengikatnya. Aku terjatuh, kepalaku terbentur aspal begitu keras
karena badanku jatuh dalam keadaan kepala terlebih dahulu. Di bawah guyuran
hujan, darahku mengucur, aku masih tersadar. Air mataku masih menetes terus,
suaraku sangatlah pelan dan sangat sukar untuk keluar.
“Nina....”
Hanya itu kata terakhir sebelum aku tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit
oleh beberapa orang di sekitar situ.
Mulai
saat itu aku menjalani hidupku yang berbeda, dokter mengvonisku mengalami
amnesia berat. Hidupku yang berbeda bukan berarti apa-apa, aku hanya melamun
sepanjang hari di kamarku. Tak bisa bicara layaknya orang gila, setelah
beberapa kenangan indah itu aku dapatkan, maka Tuhan memberikan hasil yang
kuminta. Pikiranku benar-benar lumpuh, aku bagaikan seonggok danging bernyawa
yang hidup di sekitar orang-orang yang hampir setiap harinya menangisiku.
Bahkan Nina setiap hari datang untuk berbicara denganku walaupun tentunya aku
tak menjawab apa-apa. Dia juga berkali-kali menangis dalam pelukanku. Sampai
dia mampu tersenyum setelah terlihat satu cahaya terang, membuka kemungkinan
untukku kembali. Ketika dia membawa foto yang berisi kita berdua, aku
mengeluarkan air mata, menunjukkan masih ada kehidupan dalam tubuhku. Pada saat
itu keluar tiga kata dari mulutku.
“Aku
Cinta Kamu.”
Nina
menangis di sampingku yang selalu terdiam dengan memelukku begitu erat.
-Tamat-
(Bersambung...)
Biodata
Penulis
Nama : Moch. ‘Alimul Akbar Rafsanjani (Ali
Akbar)
Alamat : Cisitu Bandung
Nomor
HP : 085732881116