Pages

Senin, 02 November 2015

Logika dan Pemikiran Liar #1

Hello guys, What's up ???
Kali ini gue harus mengakui kalo gue itu punya pemikiran-pemikiran liar yang kadang hilang begitu saja kalo ngga gue tulisin.
Terkadang gue pernah mencoba membayangkan bagaimana hidup gue kalo hidup sama seseorang, yang rada bikin liar adalah ketika cewe yang gue pikirin itu Nabilah JKT48. Awalnya sih masih bener, mikirin soal finansial, life planning, dan lain-lain, eh ujung ujungnya mikir ke arah sono *IfYouKnowWhatIMean

Tapi pemikiran gue kadang juga liarnya menjadi logis jika mau dipikirkan secara mendalam. Misalnya mengenai hal ini :

Sabtu, 31 Oktober 2015

Realita Kehidupan

Hello guys, what's up ???
Baru aja kemaren gue ngepost yang serius yak soal asap, tapi emang bener itu kegelisahan yang gue alamin saat-saat ini.
Aneh juga sih ya kalo gue sekarang mulai sering ngepost di blog ini. Ya jujur aja gue ini lagi sempet-sempetin aja nglakuin hal gak guna alias GABUT !!
Nah dari pada gabut kan gue mendingan ngelakuin hal yang lebih positif kan. Nulis di sini apa termasuk hal positif ? Entahlah tapi yang penting gue produktif aja setiap saat, selagi bisa berkarya mengapa tidak ???

Kalian pernah ngga sih ngerasa suntuk, bosen, dan muak sama apa yang selalu kalian lakuin ???

Rabu, 28 Oktober 2015

ASAP RIAU, URGENT, Analisis dengan data

Hello guys what's up ???
Udah lama bet ya gue ga ngepos di sini, ya emang gitu ya jadi orang yang beranjak dewasa.
HOLLY SHIT gue pingin tetep jadi bocah aja yang ga mikirin kuliah :v

Yak oke, jadi gue ini lagi mengalami keresahan sama berita yang nggak kunjung ganti topik. Udah dari agustus meeeen

ASAP as soon as possible. Di Indonesia lagi ngetrend ngomongin asap, katanya di daerah sekitar kalimantan sama sumatera lagi banyak kebakaran hutan, tujuan utamanya adalah dengan berkurangnya hutan, maka akan semakin luas industri kelapa sawit karena kebunnya bertambah,

APA YANG SALAH ???

Selasa, 21 April 2015

Nanoteknologi : Kembalinya Teknologi yang Telah Ditemukan

Situs ask gue

Hello guys, gue balik ngeblog lagi. Kali ini gue bakal masukin ilmu pengetahuan ke tulisan-tulisan gue. Sekarang gue lagi minat banget buat bikin tulisan yang genrenya Sci-fi atau science fiction. Lebih keren dan biar kuliah gue di ITB nggak sia-sia juga ya hehe. Kemarin gue udah bikin sedikit tulisan yang sebenernya keren banget buat ngupas sci-fi gue :



Tadi aku dapet materi tentang nanoteknologi, ternyata keren banget, bahkan sehelai kertas dapat menjadi sebuah tablet dengan nano teknologi. Nanoteknologi mulai dikembangkan sejak abad 19 an, tapi baru mulai booming ketika tahun 1990 an. Hal ini membuat dosenku membuat kesimpulan bahwa sebenarnya zaman dahulu ada teknologi yang jauh lebih canggih dari pada sekarang ini, buktinya adalah pedang terkuat di dunia ada di suriah arab, pedang itu ternyata sudah menggunakan prinsip nanoteknologi. Ada yang lebih klasik, mengingat cerita pada zaman Nabi Sulaiman, ketika itu beliau ingin memindahkan kerajaan ratu Bilqis dengan secepatnya. Pada waktu itu, jin mengatakan bisa melakukan sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Tetapi ada seseorang (manusia) dapat memindahkannya sebelum Nabi Sulaiman selesai berkedip. Bukankah waktu itu teknologi seharusnya sudah ada yang berkembang sepesat itu ??? Tetapi cerita selanjutnya terfokuskan ke arah cerita pertemuan Nabi Sulaiman dengan Ratu Bilqis. Dan sampai sekarang manusia itu juga tidak diketahui teknologinya dan tidak dikembangkan sampai sekarang ini. Jika kalian berpikir masuk akal juga ternyata betapa kita mudah teralihkan dari beberapa hal penting ? Marilah kita menjadi termasuk golongan yang selalu berpikir. Aamiin

Moch. 'Alimul Akbar Rafsanjani
18 thn

Sabtu, 14 Februari 2015

Valentine dalam Beberapa Versi

Hello guys, what's up ?
Kemarin tanggal berapa ? 14 Februari 2015 ! Wuuuu valentine \m/
Sebenernya mungkin banyak latar belakang yang baca ini blog, yang secara pandangan mereka bisa bertentangan.
Biasanya dalam agama gue nih, orang ngerayain valentine itu dilarang bagi beberapa golongan yang mengatakan itu. Kalo gue sendiri mah gak tau gimana yang bener.
Masalah valentine udah membabi buta ke hampir semua kalangan, yang bikin ironis adalah gimana sampe dirayain anak-anak SD atau mungkin SMP yang pada dasarnya mereka hanya tau mana yang cewek dan mana yang cowok, yang terbaik masih ketutup di mata mereka.
Sebenernya gue gak masalahin lu mau ngerayain atau nggak. Asal gue masih pertimbangin salah satu hal, yaitu lu jangan sampe nyusahin orang lain guys. Lu mau mesum kek, mau kasih coklat kek, mau nembak cewek kek, atau mau cuma lihatin orang nembak cewek pake coklat sambil mesum juga semua terserah lu asal nggak ada efek buruk buat orang selain lu yang nggak ikut campur. Dosa mah ambil sendiri, gue gak masalahin ketika lu tau konsekuensi dari apa yang akan lu perbuat.
Sekarang mungkin pada ngerasain bahwa hari ini hari kasih sayang, tapi kalau ada yang menyatakan pada hari ini kita nggak boleh berkasih sayang karena ini mennjurus pada agama tertentu, itu namanya fanatik guys.
Berkasih sayang itu kapan aja sama, tinggal gimana cara lu lakuinnya. Sekarang siapa bilang ngasih coklat sebagai tanda kasih sayang itu dilarang ? Sini kita diskusi. Coba aja kalo seumpama di hari ini lu kumpulin anak anak yatim trus lu kasih coklat sebagai tanda kasih sayang, buat yang bilang lu salah, gue adalah orang yang pertama bilang orang itu fanatik,
Yaudah intinya dari gue adalah, "Semua itu nggak masalah asal kita tau efek berikutnya, jika mampu mebuat bahagia orang lain, maka tidak usah ragu bahwa yang dilakukan itu tidak salah, asalkan tidak merugikan yang lainnya juga"

Okelah kayaknya cuma segitu dulu, thanks for reading my article. You can meet me in Facebook@Ali_Akbar104ask.fm, atau di Youtube <-- Silahkan klik aja langsung terhubung kok :D
Arigatou gozaimasu, byeeeee

Rabu, 04 Februari 2015

Cerpen 1

ada.jpgBahagia kurasa yang ada di antara kita, perjalanan cinta tak pernah begitu membuatku bahagia seperti ini. Hanya denganmu aku merasakan tak ada makhluk sesempurna dikau. Alis matamu, hidungmu, bibirmu, sampai geraian rambutmu terasa layaknya lukisan Tuhan yang diberi nama Manusia.
Sedap tuk dipandang hanyalah setitik indah dalam dirimu, disamping itu ada ketulusan yang dalam di hatimu. Kau berjuang begitu keras tanpa berkeringat kotor, karena setiap tetesnya kan selalu laksana embun pagi. Nina, Kaulah makhluk Tuhan yang tak akan tercipta lagi.
(Sepucuk surat Ali Akbar)

-A Little Love for An Imperfect Boy-
Namaku Al, aku adalah seorang siswa SMA ternama di kotaku. Selain itu aku juga masuk ke dalam kelas yang berisikan anak-anak pilihan, dari tingkat kecerdasan sampai bakat mereka. Sementara diriku hanya mau bergerak ketika diberi cambukan yang keras dari segala arah, itulah yang menyebabkan ku selalu lari tergopoh-gopoh mengikuti mereka. Tak lain aku adalah penghuni peringkat terakhir yang selalu berlangganan untuk mendapatkannya. Aku malas karena memang tiada hal yang paling membosankan kecuali menjalin hubungan khusus dengan buku-buku pelajaran. Secara akademik, hampir setiap saat aku mengabaikannya. Selain masalah dalam sekolah, aku juga mendapat beberapa sisi kurang yang lain. Jikalau semua orang sedang gila-gilaan dalam menjalani kesenangan mereka pada masa pubertas, mencari pacar, saling bergaul sana-sini, sampai mencoba untuk membuat suatu planning terhadap masa depan mereka masing-masing. Sementara diriku hanya terpaku diam melihat semua kesibukan orang orang ini, inti dari masalahku adalah pada tidak peduli akan hal sekitar.
Dibalik semua kekurangan itu, terdapat titik terang dalam jiwa seorang Al. Al adalah sesosok malaikat yang turun dari surga membawa sejuta kesan yang hadir dalam dunia. Dialah yang selalu inspiratif, kreatif, dan produktif. Mati rasa dalam keseriusan tak membuatnya mati gaya pula. Karena dia berjalan dalam sastra dan seni. Darah cinta selalu mengalir di dirinya, tapi cuma Nina, seorang bidadari yang beruntung datang ke tempat persinggahan yang tepat.
Darah kreatifku membuat beberapa gadis menjadi berjalan searus denganku, mengikutiku, dan menggemariku. Bukan suatu rasa percaya diri yang berlebihan jika aku mengatakan seperti itu, karena memang fanatisme mereka mencerminkan hal yang sama. Sayang sungguh sayang Nina telah menjadi incaran hatiku.
Di masa lampau, aku mengalami beberapa kisah cinta yang tak akan terlupakan begitu saja olehku, yaitu cintaku bersama Nina. Nina adalah teman sekelasku. Walau memang belum bisa aku memacarinya, karena pada waktu itu aku belum mencintainya. Tapi memang kita semua dalam satu naungan kelas mempunyai segala bentuk hubungan dekat sehingga Nina sudah terasa seperti seorang saudara bagiku, hingga nantinya akan menjadi separuh udara dalam nafasku, aliran darah dalam nadiku, serta detakan jantung dalam dadaku.
Semua kisah itu dimulai dari sifatku yang begitu melekat erat, ketidakpedulianku dalam segala hal yang serius. Kali ini diriku bermasalah dengan urusan sekolah, kebodohanku tak dapat kupungkiri. Setiap mata pelajaran yang aku ikuti selalu mempunyai nilai yang sangat tipis dari batas kelulusan, hal ini sangat mengkhawatirkan mengingat aku berada di kelas unggulan. Di sisi lain, Nina adalah seorang yang sangat rajin dan serius dalam membangun masa depannya. Suatu penyesalan baginya jika beberapa kali dia melakukan pekerjaannya dengan tidak sempurna.
Ketika hari pembagian hasil ulangan harian Matematika, seperti biasa aku hanya mendapat angka sekitaran 81, sangat tipis dengan 80 sebagai angka kelulusan. Nina mendapatkan angka 96, tapi keluhannya benar-benar membuatku tak nyaman. Aku maju ke depan mejanya sembari dia masih marah-marah terhadap hasilnya sendiri. Lalu aku gebrak mejanya keras dan berkata,
“Cukup Nina, Apa kau belum puas dengan hasilmu yang menakjubkan ?” Aku bentak dia dengan nada tinggi.
 “Apa maksudmu ? Kau sendiri kan tidak peduli dengan hasilmu yang rendah itu.” Kami saling bentak membentak beradu argumen.
“Kau bilang aku tak peduli ? Iya memang itu benar. Tapi ingat satu Nina, Tuhan selalu mendengarkan apa yang kita katakan. Memang apa yang kau katakan pasti hanya akan membuatmu mengeluh lalu berusaha lebih keras lagi. Tapi asal kau tahu saja, semua itu hanya akan terdengar sebagai omong kosong dan bukti kesombongan di telingaku, bahkan telinga orang lain !”
Nina hanya terdiam, dia merasa sangat bersalah. Karena jika dipikir-pikir, apa yang kukatakan memang benar. Air matanya menetes sembari kepalanya tertunduk, terdengar rengekan kecil dari mulutnya. Ternyata dia menangis, tak kusangka perempuan ini mempunyai hati selembut itu sampai aku telah menyakitinya.
“Sudah diam ! Kalian berdua salah. Al, kamu sendiri tak pernah mendapatkan angka yang pantas untuk keberadaanmu di sini. Nina, memang iya kamu terdengar sangat sombong jika melihat temanmu yang lain tidak mendapat sebaik dirimu.” Pak Edi, Guru matematika kami, membentak untuk melerai kita.
“Iya pak, ternyata saya memang salah. Saya tidak akan mengulangi lagi.” Nina menyesal.
“Karena kalian bersalah maka akan saya beri kalian hukuman. Untuk Nina, kamu harus membuat Al mampu mendapat nilai di atas 95 di semester ini. Dan untuk Al, buat Nina mampu menghargai yang lainnya. Jika gagal akan saya beri tambahan hukuman untuk kalian. Mengerti ?” Pak Edi memberi hukuman.
“Mengerti pak.” Kami berdua menjawab kompak.
Setelah semua itu terjadi maka Pak Edi pergi meninggalkan kelas. Suasana kembali tenang, Nina pergi ke belakang kelas dengan membawa tasnya. Dia duduk di sampingku dengan tenang.
“Buat apa kau ke sini nona rajin ?” Ejekku padanya.
“Aku hanya ingin menjalankan tanggung jawab dan mulai sekarang kamu aku awasi agar kamu mau belajar.” Jelas Nina.
“Terserahlah apa katamu.”
Semua itu berjalan dengan sendirinya, tak ada aturan, tak ada perubahan. Seperti biasa jika di kelas aku hanya tertidur, bermain handphone, dan menggambar sesuatu yang tidak jelas. Kali ini selalu tertahankan ketika Nina mengganggu kegiatanku itu. Terkadang aku marahi dia, tapi tetap saja dia bersikukuh membuatku mengikuti pelajaran. Cara dia menyadarkanku dari hal-hal itu adalah dengan mencubit perutku. Semakin aku mengabaikannya, maka akan semakin keras dia melakukannya. Benar-benar efektif untuk membuatku memperhatikan pelajaran, tentunya aku merasa terganggu. Maka ketika dia keluar kelas, aku mengajaknya untuk segera berbincang-bincang sambil berjalan.
“Hentikan semua itu, aku tak suka.” Larangku padanya.
“Biarlah, yang penting kau segera mendapat nilai bagus dan tugasku selesai.”
“Asal kau tahu saja, aku ini orang yang cerdas. Tentu aku mampu mendapat nilai yang baik, tetapi aku tak mau saja.”
Dia berhenti melangkah sejenak, lalu berkata, “Baiklah kalau memang begitu, buktikan kalau memang semua itu benar. Jika sampai kau tidak mampu mendapat nilai di atas 90 pada ulangan harian kali ini, maka kau akan jadi pesuruhku selama satu minggu.”
“Siapa takut ? Jika aku berhasil, maka kau harus jadi pacarku. Sepertinya menarik juga jika aku punya pacar yang cantik juga pintar.” Aku menerima tantangannya, tinggal bagaimanakah dia menyikapi ini.
“Apa maksudmu ?” Dia sedikit marah, lalu kembali tenang, “Tapi tak masalah, aku yakin kau tak akan bisa melakukannya.”
Setelah itu kami berpisah, melewati jalan yang berbeda. Padahal jalur terdekat ke rumah kami adalah satu jalur yang sama. Kami menjadi ibarat dua ekor kucing dan anjing yang tak bertengkar, tapi hanya saling menjauhi.
Teringat kata-katanya tadi, aku tak akan terima menjadi pesuruh seorang gadis kutu buku, lalu pikiran nakalku mulai berkeliaran mencari cara licik. Mulai dari akan membuat kesepakatan dengan temanku yang pintar, sampai ingin membuat catatan kecil yang akan aku bawa ketika ujian. Tetapi kilasan wajah terbesit dalam pikiranku, membuatku merasa bersalah ketika akan berbuat yang tak patut. Ya, aku ingat wajah siapa itu. Itu adalah wajah Nina, wajahnya ketika menangis setelah aku marahi. Ketika dia mau berubah menjadi yang lebih baik, dia tak mau menggunakan topeng palsu dalam wajahnya. Maka aku akan lebih hina jika melakukan hal-hal licik. Tak lain yang kulakukan berikutnya adalah mulai membuka buku, membaca keseluruhan bab, lalu mengerjakan semua soalnya. Tentu menghabiskan waktu yang panjang, pukul dua pagi baru bisa aku tidur. Begitu melelahkan.
Besok paginya aku berangkat ke sekolah dengan mata yang sayu, kantung mata sudah tentu timbul menghitam. Berjalan dengan sangat lambat memasuki kelas, terlihat teman-teman sedang risau belajar dan saling tanya. Sementara kulihat Nina sudah duduk di bangku kemarin, yaitu di samping mejaku. Tak kuperdulikan dia, aku langsung duduk, melipat tangan di atas meja, lalu kututupkan wajahku dengan menunduk di atasnya, seperti anak yang sedang menangis. Tetapi yang kulakukan hanyalah ingin balas dendam tehadap waktu tidurku yang terkurangi tadi malam. Belum sempat terlelap, tiba-tiba timbul rasa sakit di perut, ternyata Nina mencubit perutku lagi.
“Bagaimana ? Sudah siap menghadapi ujian ?” Dia bertanya dengan nada yang sedikit meremehkan.
“Ah sudahlah, malas aku membahas itu.” Kembali kutundukkan wajahku.
Dia mencubitku lagi, “Berarti sudah siap menjadi pesuruhku selama satu minggu ?” Berbicara dengan tertawa kecil.
“Sebenarnya tidak, sudahlah lakukan apa yang perlu kamu lakukan.” Kuakhiri perbincangan kita dan setelah itu kita lakukan kegiatan kita masing-masing. Nina belajar, dan aku hanya tidur hampir sepanjang hari. Berkali-kali Nina membangunkanku, terkadang saking lelapnya dia mencubitku begitu keras. Tentunya aku terbangun dan kembali lagi. Pada akhirnya dia sudah terlalu sering melakukannya dan berhenti melakukannya.
Dia berbisik di telingaku, “Kamu sepertinya lelah sekali ya ? Ya sudah selamat beristirahat.”
Aku mendengar apa yang dia katakan, walaupun mukaku tak kuangkat sedikitpun. Mungkin dia menganggapku tidur dan mengabaikannya, padahal aku tahu semua itu.
Setelah lelah tertidur, aku membuka mataku yang sudah begitu segar. Ternyata sekarang waktunya ulangan harian matematika, tepat ketika Pak Edi datang. Kuterima lembar soal dan jawaban milikku, tetapi belum kubuka. Aku berharap semua ini dapat berjalan dengan baik agar semua yang kulakukan tak terasa sia-sia.
Sekitar satu setengah jam kukerjakan soal matematika ini, sepertinya lebih lancar dari pada ulangan-ulangan sebelumnya. Soal yang kukerjakan tadi malam memang banyak, dan beberapa mempunyai jenis soal yang sama saat ini. Semua soal sepertinya telah kupelajari, tinggal bagaimana keberuntunganku mampu berbicara.
Setelah ujian berakhir, aku pulang ke rumah. Lalu  berganti baju dan segera makan siang. Setelah itu aku pergi ke kamar untuk rehat sejenak menghilangkan beberapa kepenatan. Handphoneku terdengar berbunyi, isyarat sedang ada pesan yang masuk. Setelah kubuka tak kusangka datangnya dari Nina, sehingga secara tak sengaja sepanjang hari itu kita saling balas pesan teks.
“Hai Al, bagaimana ujian kamu ? Sukses ?” Pesan yang dia kirim pertama.
“Hasilnya saja belum dibagi, jadi belum jelas bagaimana hasilnya.” Jawabku.
“Oh iya ya, kamu sudah makan belum ?”
Aku semakin tak mengerti apa maksudnya, ”Sudah, ada apa denganmu Nina ?”
“Tidak apa-apa kok, kamu mau istirahat ya ?”
“Tidak, aku kan sudah tertidur sepanjang hari tadi di kelas.”
Dan begitu seterusnya, banyak pertanyaan yang tidak jelas arah dan tujuannya dia lontarkan. Tadinya aku hanya membalasnya penuh kebencian, tetapi tanpa sadar aku sekilas mengingat suaranya waktu di sekolah tadi pagi. Setelah itu setiap pesan masuk darinya selalu bergegas aku membuka dan membalasnya. Setiap yang dia bicarakan selalu kubaca seiring hati berdesir, jantungku berdetak tak terkendali. Hal ini berhenti ketika beberapa jeda sebelum dia membalas, aku tertidur, dan satu pesan terakhirnya hari itu baru kubuka paginya.
Tak kubalas pesan itu aku bergegas ke sekolah dan duduk di tempat seperti kemarin, di samping Nina. Ku lihat sekilas wajahnya yang sedang makan pagi, dia selalu melakukannya setiap hari. Memang dia ini cantik dengan sejuta gambaran wajah yang akan menghabiskan begitu banyak ruang untuk medeskripsikannya. Dilengkapi dengan kepintaran dan keramahannya membuat dirinya dapat kubilang hampir sempurna. Terbuai aku memandanginya, tanpa sadar dia telah memandangku dengan seksama, lalu dia bertanya.
“Kenapa kamu memandangiku sambil senyum-senyum ? Kamu suka sama aku ?”
“Tiada yang terpampang secara jelas kecuali kecantikan seorang wanita sebagai perwakilan pesona ciptaan Tuhan.”
“Apa maksudmu ? Aku tak paham, tapi sepertinya bagus juga kata-katamu.” Nada suaranya datar, penuh gaya yang begitu tak peduli dia kembali makan.
“Mungkinkah aku memiliki seorang yang hampir sempurna ini jikalau aku berlumur dosa dan kesalahan ? Biarlah menjadi milikku agar dia mampu melengkapi segala kekuranganku.” Aku bicara sendiri, tapi tentunya dia mendengar apa yang aku katakan.
“Tentu bisa, kalau nilai ujianmu di atas 90.” Tetap saja dengan datar dia berbicara, bahkan matanya tak teralihkan dari makanannya.
Lagi-lagi masalah pelajaran yang menjadi orientasinya, tapi tak masalah. Ku akui baru kali ini ada satu orang yang mampu membuatku berusaha jauh lebih keras dari biasanya. Aku merasa sangat bahagia.
Satu minggu berlalu begitu cepat, sudah waktunya Pak Edi membagikan hasil ujian. Ketika Nina mendapatkan hasil ujiannya, dia menunjukkannya kepadaku. Hasilnya sudah pasti sangat mengagumkan, 98 hampirlah sempurna. Itu hal yang biasa, tetapi kali ini yang membuatku penasaran adalah berapa nilaiku untuk mendapatkan asetku ini. Setelah dipanggil namaku, Pak Edi sedikit memberikan senyuman padaku. Ternyata nilaiku 96, begitu bangga diriku.
Dengan pemikiran yang mendalam, aku melakukan hal yang berbeda dengan bayanganku. Jika aku mendapat nilai 96 dan aku tunjukkan pada Nina, mungkin dia akan menjadi pacarku tapi atas hasil yang kudapat, bukan karena cintanya. Maka kumasukkan kertas ujianku ke dalam tas agar Nina tidak mengetahuinya.
“Berapa nilaimu ? Di atas 90 ?” Tanya Nina.
“Bukan, cuma 84 kok. Belum cukup untuk mendapatkanmu.” Kataku sembari menundukkan kepala selayaknya orang yang menyesal.
“Tidak masalah kan ? paling tidak ada peningkatan kan ? Tersenyumlah.” Dia menghiburku dengan begitu hangat, senyumnya juga terhidang di depan mataku. Begitu manis, sehingga membuatku tersenyum juga.
Setelah itu, selama satu minggu aku menjadi pesuruhnya, memang terkesan hina. Tetapi apa yang aku rasakan begitu indah. Bukannya disuruh-suruh tetapi malah diminta menemani makan, datang ke rumahnya untuk belajar, bahkan sampai ketika akhir minggu aku harus datang mengajaknya jalan-jalan.
Begitulah yang aku lakukan setiap minggunya, semua merubah hidupku. Seluruh nilaiku naik begitu drastis. Inilah masa-masa aku mampu melakukan hal besar, karena hadirnya sebagai cambuk dalam hidupku.
Pernah juga ketika kita gencar belajar, aku mengajaknya berjalan-jalan ke sebuah air terjun di kota kami yang memang belum terkenal keberadaannya. Kulontarkan kata-kata manis kepadanya.
“Nina, lihatlah air yang selalu menetes itu, mereka mengalir dengan polosnya mengikuti arah sungai. Begitulah diriku yang selalu menurut padamu selama ini, membuatku jauh lebih baik. Lupakanlah sejenak kepenatanmu, biarkan suara alam menenangkan jiwamu, suara rumput, kicauan burung, tetesan air, sampai suara anak-anak yang bersenda gurau bersama temannya. Tutup matamu, dan dengarkanlah.”
Dia menutup matanya dan mulai tersenyum lepas, bak bidadari yang mendapatkan jalannya kembali ke surga. Kepenatan ibarat bebannya ketika dikirimkannya sebagai makhluk hidup, dan ketenangan ini mewakili keheningan dan keindahan di kehidupan setelah mati, yaitu surganya dunia. Karena tidaklah terkenal, maka wajar jika keperawanan alam ini menjadi aset utamaku dalam menenangkan jiwa dan menghadapi masalah.
Setelah jiwa kami tenang, kami segera pulang. Hal ini terjadi berkali-kali juga bahkan sering karena dia memintaku tuk mengajaknya ke sini lagi, hampir setiap minggu. Ketenangan hidup kudapatkan mulai saat ini, kejayaan masa depan sampai wanita yang kuidam-idamkan, walaupun bukan sebagai pacarku.
Suatu hari senin, seperti biasa ada upacara bendera. Seperti biasa pula jikalau ada yang berprestasi akan dipanggil ke depan. Kali ini ada seorang anak laki-laki yang mendapatkan penghargaan juara olimpiade kimia tingkat nasional, biasa saja menurutku. Tetapi ada pandangan tak biasa yang keluar dari mata cantik Nina, dia sangat kagum pada laki-laki bernama Denis tersebut. Sudah tentunya Nina akan kagum, semua yang berbau akademik akan dia sukai. Aku tak paham dengan pola pikirnya, hal ini yang tetap membuat kami berbeda walaupun aku juga selalu mendapatkan hasil yang baik pula sekarang.
Semua berjalan hampir sama di kesekian harinya. Sampai suatu saat Nina datang dengan tersenyum aneh. Ketika sampai di bangku, dia langsung berteriak.
“Al, selamat atas apa yang kamu dapatkan, ternyata kamu menyimpan semua rahasiamu. Aku tahu nilaimu sudah lama begitu baik, selamat sekali lagi !” Dia berteriak-teriak sembari menyalami tanganku.
Aku tersenyum sembari berkata, “Berarti sebenarnya kamu sudah lama menjadi pacarku kan ?” Dengan sedikit tertawa aku berkata.
Ada hal aneh, mimik mukanya berbeda. Dia menarik nafas panjang dan baru berkata, “Sayangnya Al, aku baru saja kemarin malam menjadi milik Denis. Dia menyatakan cintanya dan aku menerimanya, lagipula dia kan anak yang pintar.” Dia kembali tersenyum lebar.
Aku terkaget, sampai aku menelan ludah dengan begitu dalam. Yang bisa kulakukan hanya memberikan selamat dan juga tersenyum, walau aku tahu pasti senyumanku begitu pahit.
“Selamat ya.” Cuma itu yang aku ucapkan, tanpa sadar nadaku lirih.
Mulai saat itu aku sudah tidak bicara lagi dengannya, Nina bahkan terlihat sangat sedih ketika memperhatikanku yang menjauh darinya. Berpapasanpun aku berpura-pura sibuk dengan apapun yang kupunya, sakit memang yang kurasa. Pernah juga sekali dia mencoba untuk bicara kepadaku untuk meminta maaf jika telah menyakiti hatiku, aku hanya mengangguk. Tak tahu mengapa dia langsung duduk di bangkunya yang sekarang sudah pisah denganku, dan dia menangis begitu terisak-isak. Aku sendiri malu untuk menemuinya, semua kenangan indah akan menjadi beban perih di hati ketika ada satu kemelencengan dari salah satu pihak.
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika melihatnya sedang tertawa bersama dan dalam gandengan tangan Denis, membuatku ingin membuat suatu teorema baru, Sakit memang melihat pasanganmu sedih bersamamu, tetapi jauh lebih sakit ketika melihat orang itu bahagia tetapi dengan orang lain. Kesedihan itu berlanjut sampai pada suatu waktu kami berdua yang terakhir di dalam kelas dan terjebak hujan lebat yang menjadikan suasana kelas gelap. Tanpa sadar ternyata dia menangis sambil berkata.
“Apa salahku padamu ? Sekarang kita sampai layaknya dua orang musuh.” Tangisannya begitu kuat, nafasnya juga terisak-isak. “Aku sekarang menangis ! Tapi tetap aku perjuangkan untuk berbicara, hanya untuk memperbaiki hubungan kita berdua.”
Hatiku tersentuh mendengarnya, mataku mulai berkaca-kaca. Akhirnya tangisanku turun juga bersama turunnya air hujan. “Semua yang aku lakukan adalah untukmu, menjalani hari indah bersamamu. Membuatku merasa terbang bebas di atas awan, sehingga membuatku menentukan pilihan. Sudahlah cukup terima kasih atas yang telah kau berikan, kaulah lika-liku sungai yang membawaku menjadi lebih baik. Sekarang aku sudah mampu merajut masa depanku karenamu. Dan setelah itu kau terbang seperti bidadari yang menyelesaikan tugasnya menuju surga. Denis memang pintar, memang baik hati, dia juga hampir dikatakan sama denganmu yang menata hidupnya dengan baik.”
Kumelangkah dan berbicara begitu tepat di depan wajahnya dalam keadaan kami berdua saling menangis, suaraku pelan dan lirih, “Maafkan aku bukanlah orang yang pantas untukmu, aku telah mencintaimu semenjak kau mampu membuatku berubah. Aku tak akan menjadi sepintar Denis, aku tak sedewasa Denis. Tapi ini aku apa adanya, maka dari itu aku tak akan membiarkanmu menjadi pacarku karena ada apanya. Semua itu adalah perjuanganku dalam mendapatkan hatimu. Tetapi ternyata rasa sakit yang kudapatkan, hati ini rasanya seperti tersayat-sayat pisau belati. Aku tahu Tuhan Maha Mendengar tangisan kita sekarang. Tapi andai boleh, kuharapkan Tuhan melumpuhkan ingatanku, menghilangkan kenangan kita. Dan jika memang masih tak bisa dikabulkan, biarlah Tuhan mencabut nyawaku.” Seluruh kata-kataku bersama dengan tangis kita berdua, semakin lama semakin keras tangisannya. Tetapi setelah aku berkata seperti itu, kutinggalkan dia dan aku berlari menerobos hujan dengan tetap membiarkan air mataku mengucur dan bercampur air hujan. Hanya kudengar teriaknya dari dalam kelas.
“Al, kembalilah !”
Di perjalanan pulang aku tak berhenti menangis, sampai suatu hal terjadi. Ternyata karena badai sedang menerjang, salah satu pohon runtuh dan akhirnya menimpa sepeda motorku. Aku terlempar begitu jauh, helmku lepas seketika karena aku lupa tidak mengikatnya. Aku terjatuh, kepalaku terbentur aspal begitu keras karena badanku jatuh dalam keadaan kepala terlebih dahulu. Di bawah guyuran hujan, darahku mengucur, aku masih tersadar. Air mataku masih menetes terus, suaraku sangatlah pelan dan sangat sukar untuk keluar.
“Nina....” Hanya itu kata terakhir sebelum aku tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit oleh beberapa orang di sekitar situ.
Mulai saat itu aku menjalani hidupku yang berbeda, dokter mengvonisku mengalami amnesia berat. Hidupku yang berbeda bukan berarti apa-apa, aku hanya melamun sepanjang hari di kamarku. Tak bisa bicara layaknya orang gila, setelah beberapa kenangan indah itu aku dapatkan, maka Tuhan memberikan hasil yang kuminta. Pikiranku benar-benar lumpuh, aku bagaikan seonggok danging bernyawa yang hidup di sekitar orang-orang yang hampir setiap harinya menangisiku. Bahkan Nina setiap hari datang untuk berbicara denganku walaupun tentunya aku tak menjawab apa-apa. Dia juga berkali-kali menangis dalam pelukanku. Sampai dia mampu tersenyum setelah terlihat satu cahaya terang, membuka kemungkinan untukku kembali. Ketika dia membawa foto yang berisi kita berdua, aku mengeluarkan air mata, menunjukkan masih ada kehidupan dalam tubuhku. Pada saat itu keluar tiga kata dari mulutku.
“Aku Cinta Kamu.”
Nina menangis di sampingku yang selalu terdiam dengan memelukku begitu erat.

-Tamat-
(Bersambung...)

Biodata Penulis
Nama         : Moch. ‘Alimul Akbar Rafsanjani (Ali Akbar)
Alamat       : Cisitu Bandung
Nomor HP : 085732881116

Twitter       : @Ali_Akbar104
Askfm    : My Name Is Al !

Selasa, 03 Februari 2015

Pembuatan Vlog !

Hello guys what's up ??
Kali ini gue bakalan ngesahare beberapa planning ke depan. Ini gue udah sama beberapa temen gue pada nyari kontrakan. Nah ntarnya ini kita mau bikin sekiranya vlog gitu lah soalnya capek juga ngetik ngetik gini mending langsung take action aja.
Jadi rencana gue adalah mau bikin suatu youtube channel yang isinya beberapa kategori lah, kadang ngelucu, kadang bikin puisi, kadang cover lagu, pokoknya banyak lah yang sekontrakan gue lakuin. Emang gue nggak kumpul sama orang-orang elit tapi ya beginilah namanya mahasiswa, gue dilarang hidup elit sama bokap gue soalnya ketika jadi mahasiswa kita musti ngerasain nggak enaknya hidup meskipun kita bisa seneng seneng sepuasnya. Bokap gue emang ga asik guys, tapi gue yakin ini demi kebaikan gue. Kira kira inilah temen-temen kontrakan gue,,
First, Jaky : udah punya cewek yang langgeng banget, suka main basket sama tenis,
Yang kedua agung, the fucking one boy, Single and available, tapi humoris, calon pacar able banget, ya "calon". Sok weh hubungi di sini (085708123799)
Next, Habibi, punya cewek juga yang hampir sama lamanya kayak jaky, tapi dia sukanya di belakang layar soalnya emang gasuka ngomong di depan publik
Lalu, Hilmi, the biggest one, sekolah bisnis manajemen. Yang bisa bantuin nawar kontrakan sampe harganya miring miring :v
The next jombloer, si Wisnu yang biasa dipanggil Addien, udah punya gebetan dan masih berusaha, =>

Lalu, ada satu orang yang latar belakangnya beda sama kita, dia orang Medan huuuu, Rispandanta Kaban \m/
Yang satu ini, mulutnya nggak bisa dijaga, sukanya menghina. Ganteng sih ga masalah kalo ngehina, lah kalo kayak gini gimana ?? Suami able banget...
And the last, yang paling ganteng dari semuanya, yang paling kreatif, yang selalu baik hati tidak sombong dan rajin menabung. Orang yang selalu peduli sama sekitar, dan nggak jones. Siapa lagi kalau bukan Ali Akbar yang paling kece B-)









Oke, itulah kita yang akan berkarya nantinya. Tunggu saja karya kami yang akan menghibur anda, see you in Youtube Channel kami, silahkan ketemuan sama gue di Facebook@Ali_Akbar104ask.fm, dan gue tunggu kalian di sana. Byeee